Melirik Tambang Emas di Bisnis Iklan (Bag. 2)


26 Nov 2014

Masuknya operator ke bisnis iklan juga tidak bisa dianggap sebelah mata oleh para pemain tradisional industri ini, seperti media televisi dan cetak. 

Seperti kita ketahui, efektifitas sebuah iklan sangat ditentukan dari pemilihan target pemirsa dari iklan itu. Dan pemilihan target ini sangat ditentukan oleh profiling dari pemirsa media iklan. 

Media televisi sangat bergantung kepada AC Nielsen dalam menentukan profil dari program TV mana yang prime time mana yang bukan. Media cetak juga rajin melakukan survey pembacanya. 

Sementara raksasa iklan online seperti Google, Yahoo dan Facebook, mendapatkan profil pengguna secara gratis dari para member yang secara sukarela setiap detik 'memberi makan' profiling engine dengan aktivitas yang dilakukan selama pengguna 'nongkrong' di situs-situs tersebut.

Tambang Emas 

Lalu dari mana operator bisa mendapatkan profil target sehingga mampu menarik para pengiklan untuk memindahkan anggaran mereka dari media tradisional ke media mobile? Di sinilah terletak keunggulan operator dibandingkan pemain OTT yang selama ini mendominasi kue iklan online. 

Kalau penyedia OTT sangat bergantung kepada feeding data oleh para pengguna di situs layanan mereka, maka operator sesungguhnya selama ini duduk di atas gunungan emas, karena mereka memiliki data dari lalu lintas data semua aktivitas internet mobile yang melalui jaringan mereka.

Namun sepertinya, dengan mekanisme iklan mobile yang baru-baru ini diperkenalkan, baru permukaan dari gunung emas ini yang 'digaruk', dimana iklan dimunculkan setelah sistem mendeteksi akses kepada alamat-alamat tertentu. Dan sistem masih melakukan pukul rata terhadap jenis iklan yang dimunculkan -- pokoknya kalau ada pengunjung ke situs X, maka iklan yang muncul harus A dan seterusnya.

Sebetulnya jika dilakukansniffing terhadap paket-paket data yang lewat di jaringan operator, akan didapatkan begitu banyak informasi yang bisa mencerminkan perilaku pengguna. Selain alamat situs, yang memang terang-benderang, dari satu nomor telepon yang melakukan akses internet mobile akan didapatkan juga tipesmartphone, tipe browser, frekuensi kunjungan ke situs tertentu, aktivitas apa saja yang dilakukan di situs tersebut, bahkan jika jalur yang digunakan tidak menggunakan enkripsi, bisa didapatkan 'isi' dari konten-konten data yang dilewatkan. 

Semua ini tentu saja bisa dijadikan dasar profiling untuk mencocokkan jenis iklan apa yang akan dimunculkan kepada pengguna tertentu. Hanya saja sniffing terhadap data trafik yang sifatnya mengalir dalam jumlah yang sangat besar ini tentu tidak bisa dilakukan dengan mekanisme data mining biasa, karena tidak mungkin data dengan jumlah besar itu disimpan dulu, baru kemudian dianalisa. 

Aliran data itu harus dianalisa 'on the fly', sehingga untuk melakukannya mutlak diperlukan kehadiran sistem pengolahan big data. Dan yang tidak kalah penting, karena data lalu lintas ini sangat mentah, diperlukan kehadiran sekelompok data scientist yang mampu menciptakan 'pertanyaan-pertanyaan' yang tepat dan berguna sebagai dasar analisa dari aliran data raksasa ini. 

Masih ada satu isu tersisa dalam pengolahan data lalu lintas internet mobile untuk kepentingan iklan ini, yaitu isu privasi. Seperti diketahui, belum lama ini, sejumlah penyedia internet, termasuk salah satu operator terbesar di negeri ini, dituduh melakukan mata-mata terhadap data-data penggunanya. Menurut penulis sendiri, tuduhan kegiatan mata-mata itu masih sangat bisa diperdebatkan. 

Selama yang dilakukan terhadap data itu adalah analisa perilaku terkait kegiatan komersial tanpa secara eksplisit memunculkan identitas pelanggan, maka kegiatan itu harusnya tidak bisa dikategorikan sebagai mata-mata. 

Yang jelas, keberhasilan langkah operator dalam mengkavling pendapatan di industri iklan dan mengubahnya menjadi tambang emas baru akan sangat tergantung dari kecepatan mereka mengadopsi teknologi big data dan merekrut data scientist yang mumpuni. Karena dari situlah operator akan memiliki profil target yang layak jual kepada para pengiklan potensial.

PT Codephile Rekadaya Mandiri

Gedung Nindya Karya, Lt 4 R.407
Jl. Letjen MT Haryono Kav 22
Jakarta 13630 - Indonesia
Telp : 021 8087 3300

Email: info@codephile.com